Prechok Udhin Whiplash

October 9, 2007

Etika Puasa
Hikmah Ramadan (Oleh: Ustad Jefri “Uje” Al Bukhori)
KADAR keagungan sesuatu ditentukan oleh apa yang mengitarinya. Berdasarkan hal ini, semua tidak ada yang meragukan bahwa rukun yang satu ini bukan perkara biasa bagi seorang Muslim sejati.
Saat ini ia melaksanakan perintah Tuhannya untuk berpuasa. Puasa bukan sekadar ritual yang dipertontonkan atau hanya sebatas masuk dalam kondisi tidak menyentuh unsur-unsur materi yang membatalkannya lalu boleh menyentuhnya pada malam hari.
Di luar itu semua, puasa adalah ibadah yang agung, pahala besar, dan ganjarannya melimpah.
Keagungan puasa ditunjukkan Allah dengan janjinya, “Puasa adalah milik (untuk-Ku) dan Aku memberi pahala karenanya”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini bisa terjadi apabila orang yang berpuasa dapat menjaga segala etika dan syarat yang akan kita terangkan secara singkat dalam catatan-catatn berikut ini:
Syarat dan etika puasa, bahkan menjadi penentu dari semua syarat dan etika yang lain sehingga amal apapun tidak akan diterima kecuali jika didahului dengannya, yakni niat melakukan puasa dengan hati yang ikhlas.
Para ulama menyatakan bahwa niat puasa fardhu (wajib) harus dilakukan pada malam hari, berdasarkan satu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA dari Hafshah RA, “Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari hingga sebelum terbit fajar maka tidak ada puasa baginya (tidak sah puasanya)”. (HR Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah dan Ahmad)
Orang yang hendak berpuasa harus memfokuskan niat puasanya sebagai ibadah yang diharapkan dapat mendekatkan diri kepada Allah.
Niat puasa harus senantiasa diperbaharui setiap malam agar pahala bertambah besar dan ganjaran bertambah banyak.
Selain menyertakan niat, untuk kesempurnaan puasa agar diterima Allah, maka ia harus dilakukan sesuai dengan cara Rasulullah SAW sehingga tidak ternoda dengan perusak apa pun baik yang bersifat materil dan immateril.
Di antara fenomena yang sering terjadi pada kebanyakan orang yang berpuasa adalah tidak menghayati tujuan, hukum, dan hikmah puasa, sehingga rentan terjerumus ke dalam faktor-faktor yang merusak dan mengurangi pahalanya.
Alhasil, yang ia dapatkan dari puasanya hanya lapar dan dahaga.
Puasa sejati akan membangkitkan perasaan dan emosipeka terhadap kondisi sosial masyarakat kita yang menderita kekurangan.
Puasa sejati juga mendorong untuk menggunakan segenap kemampuan dan potensi, serta kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepadanya agar bergerak aktif.
Tetapi banyak kenyataannya masih ada saudara-saudara kita yang kehilangan atau lemah penghayatan terhadap tujuan dan hikmah puasa. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita dan kepadanya.
Puasa bisa menimbulkan efek yang luar biasa bagi yang melakukannya seperti ketenangan jiwa, hati yang lepas dan pikiran yang jernih.
Pada umumnya, suasana seperti ini dirasakan oleh orang yang berpuasa di bulan Ramadan.
Oleh karena itu setiap Muslim yang berpuasa harus banyak melakukan aktivitas positif, misalnya membaca Al Quran, berzikir, dan saalat berjamaah di masjid.
Salah satu etika puasa yang sangat penting dan menjadi sarana mutlak untuk mencapai tujuan puasa (takwa) adalah pesan yang terkandung dalam sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Hurarirah RA, “Puasa adalah perisai. Apabila seorang diantara kamu berpuasa, maka jangan melakukan rafats (hal yang berkenaan dengan syahwat dan mengangkat suara (karena emosi). Untuk itu, jika ada yang menghardik atau mencacinya, maka hendaknya mengatakan, ‘Aku sedang berpuasa’”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari hadis di atas bisa di pahami bahwa orang yang berpuasa harus bisa menahan setiap hal yang berhubungan dengan syahwat dan emosi meledak-ledak.
Tujuan ini mustahil dapat dicapai kecuali oleh orang yang memperbaiki puasanya, meluruskan akhlaknya, dan mendidik dirinya.
Puasa dapat berfungsi sebagai perisai yang menjaganya dari tindakan kasar, kotor, dan menahannya dari faktor-faktor yang mendorong pada hubungan suami istri siang hari, sehingga tidak terjerumus dalam larangan.
Sungguh akan tampak begitu indah bila orang yang berpuasa dapat menunjukkan etika-etika tersebut dalam kesahariannya.
Sudah seharusnya kita menyadari hal ini agar dapat meraih kebaikan di dunia dan akhirat, dan menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta menambah kesalehan dan ketakwaan kita.
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk mengajarkan amal saleh.

Hello world!

October 8, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.